BUKAN NARASI BIRU KUNING (BAB 1) UCAPAN JANJI
BAB 1
UCAPAN JANJI
JANJI
Sebuah kontrak
psikologis yang menandakan transaksi antara dua orang dimana orang pertama
mengatakan kepada orang kedua untuk memberikan layanan maupun pemberian yang
berharga baginya sekarang dan akan digunakan maupun tidak. Janji juga bisa
berupa sumpah atau jaminan.
Namun ini hanya
sebuah ucapan yang memang jika dilakukan akan membuat orang lain bahagia dan
bersyukur. Dan jika tidak terpenuhi akan membuat orang lain menangis dan
merasakan sakit hati.
Jika berbicara
janji, pasti janji apapun adalah hutang. Dan hutang itu harus di bayar oleh
sang pembuat janji yang merasa dirinya sanggup melakukan apa yang
dijanjikannya. Namun janji bisa saja batal jika ternyata kita tidak bisa
melakukannya. Karena niat dan usaha semaksimal mungkin akan mengalahkan
daripada janji itu sendiri, Allah swt mewajibkan kepada kita untuk berniat dan
berusaha. Tetapi Allah swt tidak mewajibkan kita untuk berhasil melaksanakan
apa yang kita janjikan. Karena yang mengatur berhasil atau gagalnya kita
melaksanakan apa yang kita janjikan itu hanya Allah swt.
Dan tahukah
mengapa Allah swt menciptakan hati?
Karena melalui
hati, Allah bisa menilai seberapa ikhlas hamba-Nya tunduk dan patuh kepada-Nya.
Melalui hati, semua makhluk bisa merasakan apa yang dirasakan oleh makhluk
lainnya. Melalui hati, seorang wanita bisa mengungkapkan perasaannya yang
diwakilkan oleh mulut kepada sang pria, ataupun sebaliknya. Melalui hati, kasih
sayang seorang ibu bisa mengalir seperti sungai kepada anak gadisnya.
Sudah dua belas
tahun aku bertahan dengan keingkaran janjiku padanya. Entah mengapa aku belum
bisa bersatu dengan hatiku untuk berhijrah. Padahal, jika di bilang sayang. Aku
sangat menyayanginya tanpa batas. Tak kan ada yang lain di hatiku dengan ikhlas
memberikan kasih sayangnya untuk diriku sendiri.
“Kamu sudah
kelas tiga SMA Teh, kenapa belum bisa berubah? Apa yang ada di otak kamu?”
Selalu saja itu
yang Mamah katakan terhadapku jika aku mulai memancing amarahnya. Dan tak
pernah aku jawab. Aku hanya berfikir keras dan bertanya pada diriku sendiri.
Mengapa aku tak bisa berubah seperti yang Mamah harapkan untuk ku. Tinggal
beberapa bulan lagi aku akan menjadi seorang mahasiswa.
“Callysta! Kamu
dengar Mamah gak sih?
Nama ku
Callysta Putri Adelina. Nama indah itu merupakan ide yang diberikan kakak
sulung ku; Pandu Putra Adinata. Pandu sudah lebih dulu kuliah di Institut Agama
Islam Negeri Sultan Maulana Hasanudin
Banten jurusan Bahasa dan Sastra Arab semester akhir. Aku dan Pandu hanya beda
enam tahun. Dan bulan Agustus ini, aku akan menyusul Pandu ke Serang menjadi
mahasiswi disana.
“Iya Mah,
Callysta dengar ko..” ucap ku dengan malas.
“Kamu tuh beda
yah sama Pandu. Aa kamu tuh selalu nurut sama Mamah. Tapi kamu ko sama sekali
enggak nurut.”
Selalu itu yang
diucapkan Mamah untuk membedakan aku dengan Pandu. Jelas Mamah lebih sayang
terhadap Pandu ketimbang aku. Namun bagaimanapun aku tetap menjadi anak kesayangan
Papah. Karena anak perempuan akan selalu dekat dengan sang Ayah.
“Ya jelas beda lah
Mah, aku kan cewek. Aa Pandu itu cowok. Pasti beda karakternya. Mamah aja yang
aneh! Selalu sama-samain aku ke Aa Pandu! Udah jelas aku sama Aa Pandu itu
beda!!” omel ku.
Kali ini Mamah
terdiam jika aku sudah mengomel. Padahal dalam hatiku tak ada niat sedikitpun
untuk berbicara kasar dan keras dihadapan Mamah. Maafkan aku Mah! Aku terbawa
emosi jika Mamah terus membeda-bedakan aku dengan Pandu.
Derap langkah
kaki yang ku kenal. Ketukan pintu depan yang sering ku dengar. Dan hasilnya,
Pandu kembali ke rumah setelah sekian lama berjuang di kota orang. Dan dalam
sekejap raut wajah Mamah berubah menjadi senang.
“Panduuuu!!”
jerit Mamah seraya menghampiri Pandu dan memeluknya.
Daripada aku
harus melihat adegan seperti sinetron ftv yang berlebihan, lebih baik aku ke
kamar dan tidur sambil nunggu Papah pulang.
“Callysta! Mau
kemana de?” tanya Pandu padaku.
“Aku mau
keatas, Aa sama Mamah temu kangen aja dulu.” Sindirku dan langsung masuk
kedalam kamar di lantai atas.
“Callysta
kenapa Mah?” tanya Pandu pada Mamah.
“Biasa, adik
kamu itu selalu bikin Mamah emosi..”
“Mamah harus
bisa kontrol emosi. Jangan terlalu dipikirin kalau memang itu hanya masalah
kecil ya Mah..” Pandu mengingatkan.
“Iyah, tapi
adikmu itu loh A, yang selalu buat Mamah emosi.”
“Iyah, nanti Aa
yang coba bicara sama Callysta ya Mah. Mamah tenang aja.”
“Terus kamu
kapan wisudanya A?” tanya Mamah
“Aa juga masih
berusaha buat menyelsaikan SP dulu. In syaa Allah tahun besok Aa wisuda. Do’ain
aja ya Mah..” ucap Pandu seraya mencium punggung tangan Mamah.
“Terus, calon
buat menantu Mamah udah dapet belum A?” tanya Mamah lagi.
“Ya ampuun mah,
Aa tuh mikirin skripsi aja belum kelar. Gimana mau mikirin calon isteri. Tenang
aja Mah, kalo Aa udah siap semuanya pasti Aa langsung lamar orang nya ko. Karna
Aa Cuma mau lewat ta’aruf aja Mah..” ucap Pandu dengan wajah yang mulai kusut.
“Yasudah, Mamah
mau nyiapin buat makan malam dulu. Kamu bersih-bersih dulu sana yah A..”
printah Mamah.
“Oke Mah!” ucap
Pandu seraya mencium pipi Mamah dan segera berlari ke kamar.
Seperti biasa,
aku selalu membuat ramai jika sudah di kamar. Aku menyalakan musik melalui
speaker dan sambil menulis semua inspirasi yang aku tuang kedalam laptop
kesayanganku. Yaa, bisa dibilang cita-citaku ingin sekali menjadi penulis
seperti Bunda Asma Nadia. Aku ingin membuktikan, bahwa dunia kepenulisan itu
sangat penting dan sangat berguna untuk kehidupan nyata maupun khayal. Suatu
saat aku akan membuktikannya. Aku janji!
Tok Tok Tok Tok
“Siapa yaaa?”
teriak ku dari dalam kamar.
“Ini Papah Teh,
buka pintunya. Ayo kita makan malem bareng-bareng di bawah!” ucap Papah dari
balik daun pintu.
“Papaaaaahh!!”
ucap ku seraya berlari dan membuka pintu kamar kemudian memeluk Papah dengan
erat.
“Pasti Teteh
ribut lagi yah sama Mamah?” tanya Papah memastikan.
“Habisnya Mamah
selalu nyamain aku sama Aa Pandu Pah..” rengek ku.
“Yaudah gak
usah dibahas yah sayang. Sekarang kita makan malam dulu yuk!” ucap Papah seraya
mengelus rambut panjang ku.
Aku dan Papah
menuruni tangga bersama. Padahal rumah kami juga tidak terlalu megah. Hanya ada
dua lantai. Dan diatas untuk kamar ku dan kamar Pandu. Tapi, aku senang karna
rumah ku di kelilingi oleh halaman dan taman yang luas. Yah hitung-hitung untuk
mencari inspirasi baru dalam dunia khayalan ku,hehehe
Bahkan di
kamarku, hanya ada sebuah lemari dua pintu dan meja belajar ku. Kalau berbicara
soal prestasi, aku hanya siswi biasa. Yang penting nilai ku di atas rata-rata
dan ilmu yang aku punya bisa bermanfaat untuk orang lain walaupun sedikit.
Bahkan ketika SMA, saat Papah mengetahui aku ingin menjadi seorang penulis;
Papah tidak setuju dengan apa yang aku impikan.
Dan saat itu
pula, aku sangat menyayangi Mamah. Hanya melalui perngertian Mamah, Papah jadi
mendukung apa yang aku cita-citakan. Yaa, aku diizinkan untuk menjadi seorang
penulis. Dan ku rintis karir ku ini melalui beberapa lomba dan sayembara cerpen
dari beberapa penerbit indie maupun mayor.
Dan sekarang,
entah lah!
Mengapa aku
bisa tersenyum sendiri di meja makan? Bahkan sudah beberapa kali di tegur oleh
Pandu.
“Callystaa!!”
paggil Pandu.
“Eeh, iya A?
Ada apa ya?” tanya ku memasang muka polos
“Kamu kenapa
senyum-senyum sendiri gitu?” tanya Pandu setengah berbisik.
“Eeh, mm gak
apa-apa ko, hehehe” aku tertawa garing.
“Habis makan,
Teteh jangan lupa nyuci piring yaa!” ucap Mamah mengingatkan.
“Iye iye Maahh”
ucap ku sedikit kesal.
Seperti biasa
lagi, kadang aku harus menuruti perintah Mamah walapun dengan wajah yang
sedikit kesal atau cemberut. Itu semua karna mood. Aku memang moody banget
dalam hal apapun. Walaupun seperti itu yang penting semua yang diperintahkan
sudah terjalani dengan baik, bukan? Hehehe
Usai
mengerjakan tugas dari Mamah, aku segera kembali ke kamar dan bersiap-siap
untuk melewati mimpi indah dalam khayalku.
Keesokan hari,
seperti biasa untuk hari liburku; mencari inspirasi yang akan ku tuangkan nanti
malam pada laptop kesayanganku. Walaupun terkadang hasilnya nihil tapi, itu
semua membuat aku lega karena dunia khayal dan mimpi ku kembali refresh. Pagi
ini, usai melaksanakan tugas ku sebagai seorang gadis satu-satunya di rumah aku
sengaja duduk di taman depan rumah. Aku menatap hijau tumbuhan disekitarku, aku
selalu senang dengan keadaan seperti ini. seolah masih ada hidup yang kedua
kalinya di bumi ini.
“De, lagi
ngapain disitu?” tanya Pandu seraya menghampiriku di taman.
“Lagi refershing
A, emang kenapa?”
“Hahaha lucu
kamu de, refreshing itu jalan-jalan! Kan sekarang liburan de!”
“So whaat gitu?
Emang refreshing harus jalan-jalan aja? Gak usah ngomong kalo gak ngajakin dan
traktirin!” ucap ku mulai kesal.
“Hahaha ya
sudah, kamu mau kemana hari ini? biar Aa yang traktir!” ucap Pandu
“Aa seriusaaan?
Beneran gak nih?” tanya ku memastikan.
“Iya, Aa
seriusan!”
“Ke Gramedia
aja yuk A, mau nyari buku Bunda Asma Nadia!” usul ku.
“Boleh, ayoo!
Eh iya de, emang bener kamu kemaren ketemu sama Asma Nadia?”
“Weeh, atuh iya
dong! Udah di anggap jadi anaknya Bunda Asma sendiri loh hehehe”
“Hebat yah
adiknya Aa! Yang lebih rajin lagi nulisnya yah! Ya sudah, yuk ke Gramedia!”
ucap Pandu seraya mengacak-acak rambutku.
“Okeh, aku
siap-siap dulu yah A..”
“Ya sudah, Aa
mau siapin mobil dulu..” ucap Pandu seraya pergi menuju garasi mobil.
Akhirnya hari
ini aku diberikan kesempatan untuk membeli buku karangan Bunda Asma Nadia,
“Bunda, andai Bunda tahu. Aku sangat ingin sepertimu!” aku mengucapkan dalam hati
seraya memeluk figura foto ku bersama Bunda Asma Nadia. Memang aku sempat
bertemu dengan Bunda saat aku mengikuti acara talkshow di Gramedia Matraman
Jakarta Timur.
Usai makeup
sebentar, aku segera turun dan menuju garasi. Pandu sudah berada disana. “Se-menyebalkan
nya Aa, Aa tetap Aa aku! Dan Aku sayang sama Aa!” aku tersenyum memandang wajah
Pandu.
“Udah makeup
nya? Tumben sebentar..” tanya Pandu.
“Heran yah sama
cowok, makeup lama di marahin. Makeup sebentar di komentarin. Maunya apa coba?”
sewot ku.
“Habis nya
cewek itu ribet, kemana-mana pake makeup! Natural aja sih!” omel Pandu.
“Cewek pakai
makeup juga untuk perawatan wajah mereka. Coba aja kalau Aa udah punya cewek
nanti, pasti dia juga bakal makeup kalo mau pergi. Apa lagi panas-panas
begini!”
“Pokoknya Aa
mau punya cewek yang natural aja, gak mau neko-neko kayak kamu de..”
“Hahaha
terserah Aa deh, intinya sekarang kita berangkat ke Gramedia!!” perintah ku.
“Berangkaaaatt!”
ucap Pandu dengan gaya lucu nya.
“Semoga
perempuan yang Aa harap kan bisa bertemu dengan Aa yah!” ucapku memohon dalam
hati.
Tepat pukul
12.15 wib aku dan Pandu sampai di Gramedia Toko Gunung Agung Teras Kota BSD.
Pandu segera parkir mobil di lantai atas, sedang aku menunggu di pintu masuk.
“Udah jam
segini de, sholat dulu yuk! Biar nyari buku nya sambil baca tenang..” ajak
Pandu.
“Siaaap boos!”
ucap ku seraya menuju musholla bersama Pandu.
Usai aku
sholat, ternyata Pandu sudah lebih dulu menunggu di pintu masuk. Dengan segera
aku menghampirinya.
“Aa! Masuk
yuk!” ucap ku seraya menarik lengan Pandu.
“Eeehh, jangan
di tarik-tarik gini de! Emang nya Aa apaan di tarik begini?” ucap Pandu
“Aa tuh ya Aa
aku! Kata siapa Aa itu kambing yang lagi di tarik-tarik?! Eh, keceplosan, hehe”
ucap ku seraya memperlihatkan senyum cengir kuda.
“Adeee, kamu
tuh yaaa...” Pandu terlihat kesal.
“Ssssstt!!
Udah, jangan ribut disini sih, ntar berisik malah dimarahin sama orang..” ucap
ku mencari seribu alibi.
“Ya sudah,
makanya cepetan tuh ke lantai atas! Cari buku nya cepetaaan!’ ucap Pandu.
“Iya sih, bentaran
kenapa sih?! Kan naik eskalator dulu A..”
“Baweel!!”
Pandu kesal dan menjitak kepala ku
“Aa!!” ucap ku
seraya mencubit pinggang nya.
Sampainya di
lantai atas, aku segera menuju toko buku dan mencari rak Best Seller. Buku
Bunda Asma sudah pasti ada disitu. Semoga aku juga bisa menyusul Bunda Asma
yang selalu Best Seller buku terbitannya, Aaamiin, hehehe
“Aa Pandu mau
kemana?” tanya ku ketika melihat Pandu menuju alat tulis dan kantor.
“Udah, cari
buku aja kamu mah de, Aa mau ada perlu sebentar..” jawab Pandu.
“Hmm ya ya ya
terserah Aa lah..”
Dan akhirnya,
aku memilih empat buku karangan Bunda Asma Nadia; Catatan Hati Seorang Gadis,
Cinta Laki-laki Biasa, Antara Cinta dan Ridho Umi, dan yang terakhir adalah
Jilbab Traveler Love Sparks in Korea. Terkadang aku suka berkhayal untuk
menjadi gadis yang menyukai petualangan. Namun ternyata, berproses untuk diri
sendiri juga merupakan petualangan yang harus aku selesaikan.
Liburan ku kali
ini tak lepas dari buku-buku Bunda Asma Nadia. Aku selalu menerapkan ‘setelah
membaca kemudian berkhayal dan tuang kan dengan tinta emas dalam kertas perak’.
Entah dari mana
kata-kata ku itu. Yang jelas waktu SMA, aku juga mempunyai guru Bahasa
Indonesia yang selalu men-suport aku dalam dunia kepenulisan. Rasa terima kasih
ku tak kan berakhir hingga hari akhir nanti. Bahkan, sejak aku mulai mencintai
dunia khayal dan dunia tulis ku, aku merasa bahwa aku memang bisa membuktikan
bahwa aku berbakat dalam dunia tersebut.
Dan pengalaman
yang paling berkesan, aku baru merasakan betapa bahagianya jika apa yang ku
lakukan di dukung oleh banyak orang. Termasuk orang-orang yang ada di dalam
keseharian ku, orang-orang yang aku sayangi, orang-orang yang dengan mudah nya
aku menceritakan tentang sosok mereka kepada orang lain.
Seperti hal nya
Pandu, sosok lelaki yang menurut ku paling cuek sedunia. Namun ternyata, cuek
nya dia karna memang dia lebih memperhatikan bisnis nya. Mahasiswa itu apa
memang selalu identik dengan bisnis atau pekerjaan yang lain yah? Tapi, biarkan
saja. Yang penting aku merasa bangga tersendiri memiliki kakak seperti nya
bagaimana pun, dia tetap kakak yang perhatian kepada adik nya. Walaupun
terkadang sikap cuek nya itu membuat ku jengkel.
Aku bahagia
mempunyai keluarga yang sederhana seperti ini, bersyukur semua keperluan
keluarga ku tercukupi. Papah, yang selalu bekerja keras demi menghidupkan
keluarga kecilnya. Mamah yang selalu sabar dan tabah menyikapi sikap dan sifat
anak-anaknya. Dan Pandu yang terkadang bisa diandalkan sikap bijak nya sebagai
seorang kakak. Dan aku, hanya seorang gadis yang sederhana dan mempunyai
cita-cita sebagai seorang penulis.
“Berjanji lah
untuk berproses menjadi anak sekaligus adik yang baik untuk Aa ya de..” ucap
Pandu seraya merangkul pundak ku.
“Siap bos!
Makasih buat buku nya yah Aa ganteng..” ucap ku
“Ingat,
pekerjaan seorang penulis bukan hanya menulis de, zaman sudah berubah lebih
maju. Kamu harus bisa menyesuaikan nya..” ucap Pandu menasehati.
BERSAMBUNG...
Komentar
Posting Komentar